Senin, 27 April 2015

Kentang Air Payau

Apa jadinya bila Dewa Laut Poseidon bersahabat dengan Dewi Panen dan Kesuburan Demeter? Hasilnya adalah Salt Farm Texel. Ya, jangan kaget, salt farm. Pertanian di pulau Texel yang terletak di Belanda bagian utara, mengolah lahan dengan kadar garam tinggi menjadi pertanian, dan menyiram tanaman dengan air laut yang diencerkan. Tidak tanggung-tanggung, salah satu hasil pertaniannya adalah kentang, yang merupakan satu dari lima makanan yang paling banyak dikonsumsi; selama ini diyakini, kelima makanan tersebut sangat tidak tahan terhadap garam. Kentang asal Texel ini berhasil mengalahkan 560 proyek lain dari 90 negara, memenangkan penghargaan prestisius Securing Water for Food Grand Challenge dari USAid.

Salinisasi adalah momok bagi pertanian. Secara global, >1 miliar hektar tanah menjadi percuma akibat salinitas, dan 50% lahan pertanian terancam oleh air garam. Ini khususnya jadi masalah besar di Belanda, yang negerinya terletak di bawah permukaan laut. Diperkirakan, 6,5% dari total lahan pertanian di Belanda akan terpengaruh oleh salinisasi tanah. Di masa depan, PBB mengestimasi bahwa dunia akan kehilangan sedikitnya 3 hektar tanah garapan/menit akibat salinisasi.

Kenyataan ini justru membuat ilmuwan Belanda Dr. Arjen de Vos dan pelopor pertanian organik Marc van Rijsselberghe melahirkan temuan inovatif: salt farm. Bagi de Vos, salinasi bukanlah masalah, melainkan kesempatan. Sedangkan Rijsselberghe sedikit menyesalkan, semua orang berkonsentrasi untuk mengubah air laut menjadi air segar, dengan biaya yang tidak sedikit. Sementara itu, ia dan rekannya ‘cukup’ menggunakan apa yang telah disediakan alam.

Rijsselberghe sadar, 1/3 bagian negaranya sensitif terhadap salinisasi. “Kita membangun tanggul dan memompa air keluar, dan merasa aman. Kita percaya, yang ada di luar tanggul tersedia untuk nelayan, dan di dalam tanggul untuk petani,” tuturnya. Menurutnya, sudah saatnya merubah pola pikir demi keberlangsungan produksi makanan. Ia terinspirasi dari selada laut yang tumbuh subur di tanah payau.

Marc van Rijsselberghe

Percobaan di Salt Farm Texel dimulai sejak beberapa tahun lalu. Ditanam ¼ acre kentang di 48 ladang uji, dan diirigasi dengan enam jenis air yang memiliki konsentrasi garam berbeda-beda. Dari 30 varietas kentang, didapatkanlah dua spesies hasil persilangan konvensional.

Kentang ‘air payau’ ini kaya akan komposisi mineral dan memiliki rasa yang unik. Namun jangan khawatir akan kandungan garamnya, karena sebagian besar garam yang diserap oleh tanaman, disimpan di daun. “Dibutuhkan berkilo-kilo kentang untuk melebihi rekomendasi asupan garam,” uajr de Vos. Berdasarkan pengamatannya, ia menemukan bahwa bila tanaman ‘diusik’ oleh garam, maka tanaman tersebut akan mengompensasinya dengan gula. Buah stroberi yang ditanamnya, memiliki rasa yang sangat manis.

Selada, bit, wortel dan bawang bombai adalah hasil pertanian lain dari Salt Farm Texel. Kentang Texel sudah bisa didapatkan di pasar lokal Belanda.

Proyek serupa tengah dikerjakan di Sindh (tando Allah Yar) dan Punjab (Okara), Pakistan. Benih kentang ditanam di beribu-ribu hektar lahan tidak produktif akibat perambahan air laut. Bila proyek ini berhasil dan kentang bisa beradaptaasi dengan iklim Asia, maka 250 juta orang yang hidup di dataran bergaram akan memiliki harapan akan ketersediaan pangan.

Yang lebih ambisius lagi bila berhasil ditemukan jenis rumput yang toleran terhadap garam. Ini akan sangat mengurangi konsumsi air segar yang digunakan untuk menyirami lapangan golf. “Alam telah memberikan bantuan. Hanya saja kita belum menyadarinya,” tutup Rijsselberghe.

Sumber:
http://www.saveourseeds.org/en/news/international/news/en/29893.html
http://modernfarmer.com/2014/12/salt-tolerant-potato/
http://www.saltfarmtexel.com/projects
https://www.unesco-ihe.org/news/salty-trip-north-exploring-cooperation-texel
http://news.xinhuanet.com/english2010/indepth/2011-08/22/c_131067024.htm
http://www.theguardian.com/science/2014/oct/18/humble-potato-poised-to-launch-food-revolution
http://censorbugbear-reports.blogspot.com/2010/07/first-salt-soil-potato-crop-success.html
http://tribune.com.pk/story/870626/agricultural-breakthrough-saline-land-yields-perfect-potatoes/

Memanen Air dari Udara

Presiden Amerika Serikat ke-35 John F. Kennedy (alm) sekali waktu berkata, “Siapa pun yang dapat menyelesaikan masalah air, pantas mendapatkan dua penghargaan Nobel – satu untuk perdamaian dan satu lagi untuk ilmu pengetahuan.” Meski 70% planet kita diselimuti air, hanya 2,5% yang berupa air segar, dan hanya 1%-nya yang bisa diakses dengan mudah. Intinya, air yang tersedia untuk 6,8 miliar orang berasal hanya dari 0,007% air di bumi!

Organisasi nirlaba Water.org menyebutkan, 750 juta orang di bumi kekurangan akses terhadap air bersih. Sementara itu, dalam satu abad terakhir ini, penggunaan air meningkat hingga >2 kali lipat peningkatan populasi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, pada 2025 sekitar 1,8 miliar orang akan hidup di daerah yang terancam kelangkaan air. Mantan Sekretaris Jenderal PBB Boutros Boutros-Ghali bahkan berucap, perang berikutnya di Timur Tengah akan terjadi akibat air, bukan politik.

Negara kita tidak luput dari masalah kelangkaan air. Di beberapa daerah, air bersih sangat sulit didapat. Untuk kebutuhan makan-minum saja kurang. Seorang teman pernah bercerita tentang pengalamannya tinggal di sebuah pulau kecil di Indonesia Tengah, untuk mengikuti kegiatan Pramuka ketika SMA. Begitu minimnya sumber air di pulau tersebut, maka untuk urusan buang hajat, pilihannya ada tiga: di hutan (sembari ditungguin babi hutan yang siap mencaplok buangan hajat), di pantai, atau meminjam kakus milik kepala desa. Pilihan terakhir terdengar paling mewah, tapi jangan berharap terlalu banyak. Kakus yang dimaksud yakni bilik kecil dengan lubang dalam di tanah, dan dua bilah kayu di atas lubang tersebut, sebagai pijakan untuk nongkrong. Tentunya, ‘peninggalan’ dari semua orang yang pernah menggunakan kakus tersebut menumpuk di dalam lubang. Dengan sanitasi yang demikian minim, tidak heran bila angka kematian balita akibat diare masih saja tinggi di indonesia.

Idealnya, tiap orang bisa mendapat cukup air untuk kebutuhan pribadi dan domestik (50-100 liter air/orang/hari). Air pun harus aman, bersih, terjangkau (tidak lebih dari 3% pendapatan rumah tangga), dan mudah diakses (jarak sumber air dari rumah maksimal 1.000 m, dan waktu untuk yang dibutuhkan tidak lebih dari 30 menit). Namun, mungkinkah daerah yang minim atau tidak memiliki sumber air tanah mencapai hal ini? Ya. Selama ada udara, maka menciptakan sumber air bukan hal yang mustahil. Tidak lain karena di dalam udara, terkandung uap air yang bisa ‘dipanen’.

Mengambil air dari udara sebenarnya bukan barang baru. Hal ini bahkan telah dilakukan secara tradisional sejak >2.000 tahun di berbagai kebudayaan, utamanya di Asia dan Amerika Tengah. Secara modern, salah satu inovator pengembang teknologi panen air yakni perusahaan asal Friesland, Belanda, Dutch Rainmaker (DRM).

Untuk menggerakkan mesin yang bekerja mengekstrasi air dari udara, digunakan energi angin, sehingga tidak menambah beban akan kebutuhan energi fosil. Meski ukuran kincir angin yang digunakan relatif kecil (10-20 kali lebih kecil daripada rerata kincir angin di Belanda), DRM dapat memroduksi +7.000 liter air/hari.

Kincir angin dan mesin DRM

Prinsip kerja DRM

Cara kerja teknologi ini relatif sederhana. Turbin angin menggerakkan pompa panas, yang digunakan untuk mendinginkan udara yang mengalir masuk. Pendinginan akan mengurangi kemampuan udara menahan air, sehingga kelebihan air di udara akhirnya memadat dan menjadi titik-titik air; serupa dengan proses terjadinya hujan. Air yang ‘diekstraksi’ ini lantas ditampung dalam kompartemen penyimpanan, untuk kemudian digunakan.

Volume air yang dihasilkan akan berbeda di tiap daerah, tergantung dari suhu dan kelembaban lingkungan setempat. Sebagai ilustrasi, 1 kg udara dengan suhu 20 oC dan RH (relative humidity) 50%, mengandung 7 gr air, sementara suhu 30 oC dan RH 50% mengandung hampir 14 gr air. Teknologi ini paling baik digunakan di daerah dengan humiditas tinggi (RH >50%) dan temperatur 20-40 oC. Terletak di garis Khatulistiwa, udara di Indonesia pada umumnya lembab, dengan rerata RH berkisar antara 70-90%, dan temperatur rerata >20 oC. Kondisi ini berbeda di tiap daerah, tapi umumnya seperti ini, dan relatif konstan sepanjang tahun; perubahan yang terjadi mengikuti musim tidak terlalu besar. Dengan kondisi demikian, ciamik sekali bila DRM diboyong ke Indonesia.

Sejauh ini, DRM telah diaplikasikan di kota Leeuwarden, Belanda, dan Um Al Himam, Kuwait. Kedua tempat ini memiliki kondisi topografi dan iklim yang sangat berbeda. Toh, implantasi DRM di kedua tempat tersebut sukses menghasilkan panen air. Tanpa perlu disambungkan dengan jaringan energi dan/atau infrastruktur air yang sudah ada, DRM bisa dibangun tepat di daerah yang membutuhkan. Tidak pula perlu membangun instalasi jaringan dan transportasi air yang mahal dan rumit. Sehingga, akan sangat bermanfaat bagi daerah terpencil.
DRM juga mengembangkan sistem untuk menanen air dari air (water to water). Pompa panas yang dihasilkan dari tenaga baling-baling kincir angin, memicu proses evaporasi dari air laut/air berpolusi. Hasilnya, air murni yang bisa digunakan untuk kebutuhan minum, sanitasi atau irigasi.

Yang tidak kalah menarik yakni Fontus yang diciptakan oleh mahasiswa disain Kristof Retezar, dan menyabet penghargaan James Dyson Award. Tanpa instalasi besar dan rumit, Fontus sangat simple dan mobile, diperuntukkan bagi para pengendara sepeda. Alat ini cukup dipasang di sepeda; kunci prinsip kerjanya yakni pendinginan termoelektrik. Fontus dapat memanen 0,5 L air selama satu jam bersepeda.

Prinsip kerja Fontus

Pada bagian tengah Fontus, terdapat pendingin kecil Peltier Element, yang terbagi menjadi dua bagian: sisi atas dingin, dan sisi bawah panas. Sistem panas-dingin ini bekerja dari energi listrik yang dihasilkan panel surya pada bagian atas Fontus. Untuk menciptakan pengembunan, mendinginkan udara yang panas dan lembab. Saat sepeda dikendarai, udara akan masuk pada ruangan bawah dan menyejukkan bagian yang panas. Selanjutnya, udara masuk ke ruangan atas dan alirannya diperlambat dengan dinding-dinding kecil sehingga memberikan kesempatan bagi udara untuk melepaskan molekul-molekul airnya. Titik-titik air lalu mengalir ke dalam botol yang dipasang vertikal. Segala jenis botol plastik PET ukuran 0,5 L bisa digunakan.

Fontus di sepeda

Bagi pesepeda seperti saya, Fontus adalah angin segar; kekhawatiran kehabisan minum di tengah jalan sementara tidak ada toko untuk membeli minuman di sekitar TKP, lenyap sudah. Tentunya, bawaan makin ringan karena tidak perlu terlalu banyak membawa suplai air, dan pastinya lebih hemat karena tidak perlu membeli air dalam kemasan.
DRM dan Fontus mungkin hanya setitik kecil dalam samudra inovasi air. Namun solusi yang ditawarkan tidak bisa dibilang sepele. Pantas rasanya bila kita memberikan apresiasi selevel dua Nobel untuk Negeri van Orange, untuk pencapaian mereka mengatasi kelangkaan air.


Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Climate_of_Indonesia
http://water.org/water-crisis/water-facts/water/
http://unu.edu/media-relations/releases/water-called-a-global-security-issue.html
http://environment.nationalgeographic.com/environment/freshwater/freshwater-crisis/
http://www.waterworld.com/articles/wwi/print/volume-29/issue-1/regional-spotlight/kuwait-proving-ground-for-the-rainmaker/wind-of-change-water-from-air.html
http://dutchrainmaker.nl/
http://dutchrainmaker.nl/products/air-to-water/
http://dutchrainmaker.nl/products/water-to-water/
http://www.jamesdysonaward.org/nl/projects/fontus-2/
http://www.engadget.com/2014/11/18/fontus-water-bottle/

Jumat, 12 April 2013

Safety First in Netherlands: Pelopor Sistem Jalan yang Nyaman

Bersepeda malam hari di kota Zwolle, Belanda, kita akan berdecak kagum. Penanda jalannya memancarkan cahaya kehijauan! Ya, di kota ini sedang diujicoba glow in the dark road marking. Ini buah pemikiran desainer asal Belanda Daan Roosegaarde, yang gelisah karena pemerintah berencana mematikan lampu di malam hari demi menghemat energi.

Bukan Belanda namanya kalau hanya membuat keputusan tanpa mencari solusi. Mematikan lampu di malam hari tentu akan merepotkan pengguna jalan, terutama pesepeda. Sementara, Belanda adalah salah satu negara dengan jumlah pesepeda terbanyak (18 juta sepeda), dan >35.000 km jalur sepeda. Namun pemerintah Belanda masih belum puas. Jumlah pesepeda ditargetkan meningkat 20% dalam 20 tahun mendatang. Disusunlah green road strategy. Misinya, jalanan bagi kendaraan roda dua harus sama amannya bagi roda empat.

Salah satu strateginya, glow in the dark road marking yang digagas Roosegaarde. Cat penanda jalan mengandung bubuk kristal yang ‘memanen’ dan menyimpan energi matahari di siang hari, dan memancarkan cahaya di malam hari hingga 10 jam. Simple yet innovative! Ini salah satu hal terkeren yang dipelopori Belanda. “Jalanan adalah soal keselamatan, dan bagaimana menghadapi dunia yang lebih mandiri dan interaktif,” ujar Roosegaarde.
(glow in the dark road marking)

Masyarakat juga harus aman bersepeda di segala cuaca. Maka digagas ide untuk menghangatkan jalur sepeda di musim dingin, yang melibatkan Gerhard Winters, ahli energi geotermal (panas bumi). Air tanah yang dipanaskan, dipompa dan didistribusikan melalui pipa-pipa plastik kecil ke permukaan jalan untuk menjaga temperatur jalan tetap hangat sehingga mencegah terbentuknya es atau lapisan salju.

Teknologi ini tidak murah: 20.000-40.000 euro/km. Tapi bila dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan akibat kecelakaan, jauh lebih murah. Bila jalur sepeda membeku selama lebih dari empat minggu, bisa terjadi 7.000 kecelakaan pada pesepeda. Dan bila orang tetap (dan bisa) bersepeda ketimbang bermobil selama musim dingin , maka penggunaan bahan bakar akan jauh lebih hemat; tentunya, menguntungkan secara ekonomi mau pun lingkungan. Kota Zutphen dan provinsi Utrecht mengajukan proposal untuk menginstal teknologi ini di sepanjang jalur sepeda.
(sistem pemanas jalan)

Jalan raya futuristik
Bagi pengendara roda empat, Belanda sedang menggarap jalan raya futuristik, yang akan diaplikasikan dan diujicoba pada pertengahan 2013. Selain glow in the dark road markings, masih ada ‘peralatan tempur’ lain. Misalnya dynamic paint; ketika suhu mencapai minus 0, sontak jalanan akan dimeriahkan ‘lukisan’ cahaya bermotif kepingan-kepingan salju, untuk memperingatkan para pengendara berhati-hati karena jalanan licin. Garis putus-putus pemisah jalur akan berubah menjadi garis penuh, yang berarti dilarang pindah jalur karena berbahaya.
(dynamic paint)

Interactive light akan memancarkan cahaya ketika kendaraan mendekat, dan kembali mati setelah kendaraan lewat. Masih ada wind-powered light, kicir angin kecil yang mengambil energi angin dari kendaraan yang lewat dan diubah menjadi cahaya.
(interactive light)
(wind-powered light)

Untuk mobil bertenaga listrik, akan disediakan jalur khusus untuk me-recharge. Belum diketahui dengan pasti teknologi yang digunakan; kemungkinan melibatkan penanaman kumparan induksi di bawah jalan.
(jalur pengisi baterai)

Menjadi pelopor dalam membangun jalan yang sedemikian nyaman bagi semua pengendara, apakah karena bangsa Belanda adalah yang terjenius? Setiap bangsa pasti dianugerahi kejeniusan oleh Sang Pencipta. Pembedanya, bangsa Belanda benar-benar memikirkan solusi dari tiap masalah demi kesejahteraan rakyatnya. Alih-alih menggunakan ilmu dan teknologi untuk membuat kekacauan, mereka menggunakannya untuk membuat kehidupan yang lebih baik.








Sabtu, 12 Mei 2012

Rokok: Dibuat Karya Seni, Jangan Dihisap!

Berhenti beli rokok = tiket ke Mesir. Bisa juga beli moge (motor gede, pen.) atau barang-barang kaum jetset macam L**IS VI***N atau B*R**N. Poster kampanye anti rokok ini digagas oleh Stivoro, agensi pengontrol konsumsi rokok di Belanda. Temanya sederhana tapi ngena: “What are you giving up to smoke?”
Poster menampilkan foto instalasi rokok berupa Piramida, motor besar dan barang-barang di etalase di toko branded. Tiap gambar tersusun dari lebih dari 7.000 batang rokok—jumlah rokok yang setara dengan konsumsi 20 batang rokok/hari selama setahun. Kalau uang untuk beli rokok sebanyak ini ditabung, cuma dalam setahun, kita bisa liburan dan lain-lain.
Memang, di Indonesia, agak berlebihan kalau mbayangin bisa ke Mesir dengan ‘puasa’ rokok setahun, mengingat harga sebungkus rokok di negeri ini ‘cuma’ belasan ribu rupiah. Kalau diakumulasi setahun, sekitar 4-5 juta. Yaa.. cukuplah untuk liburan ke Bali atau belajar diving.
Poster anti rokok ini nggak hanya catchy secara visual. Secara tersirat, dalam bahasa yang sangat halus tanpa menggurui, kita disadarkan, betapa banyak uang yang bisa kita hemat ‘hanya’ dengan berhenti merokok. Ngaku deh, perokok mana yang nggak tahu bahaya dari rokok? Jelas-jelas di kemasannya dicantumin. Bahkan di banyak negara, lebih ekstrim lagi; kemasan rokok disertai foto-foto berbagai penyakit yang bisa terjadi akibat rokok. Toh, peminat rokok nggak kunjung surut. “Itu kan terjadi sama orang lain, gue sehat-sehat aja sampai sekarang.” Disadari atau tidak, ini pasti ada di pikiran perokok. Ini juga salah satu faktor denial yang bikin sulit untuk berhenti merokok.
Nah kalau urusannya soal kocek, beda lagi. Kalau dipikir-pikir, sebagian besar dari kita kita mungkin lebih peduli soal dompet ketimbang kesehatan (miris, memang). Dari sekian banyak orang yang abai terhadap bahaya rokok, mungkin sekian persennya akan mikir: “Iya lho, kalau uang buat rokok ditabung, tahun depan rekening bank bakalan makin gendut.” Ini yang disasar oleh Stivoro dan dieksekusi secara sempurna melalui tiga poster keren tersebut. Bukannya nakut-nakutin, mereka dengan cerdas menggambarkan secara gamblang, kebaikan secara ekonomi yang bisa kita dapat tanpa rokok.
Keukeuh nggak mau berhenti merokok karena khawatir terhadap nasib petani tembakau kalau perusahaan rokok gulung tikar? Jadiin aja rokok sebagai proyek yang produktif. Jangan dibakar dan dihisap, tapi bikin instalasi macam-macam dari rokok, kayak iklan dari Stivoro tea, terus jualin deh. Kalau ada lukisan dari cangkang telur atau bulu ayam, sekarang trennya: lukisan dari rokok. Siapa tahu, ternyata ada bakat seni terpendam yang selama ini menunggu untuk dibangunkan. Sambutlah sang Maestro lukisan rokok! Bayangkan lukisan-lukisan ini betebaran di galeri seni ternama di seantero dunia. Yah,seapes-apesnya, mungkin bisa jadi tren untuk hantaran pernikahan. Dare to try?
Sumber:
http://www.bangstyle.com/2012/04/cigarette-art-anti-smoking-campaign/
http://www.mymodernmet.com/profiles/blogs/iris-amsterdam-stivoro-what-are-you-giving-up?utm_medium=referral&utm_source=pulsenews
http://adage.com/article/creativity-pick-of-the-day/dutch-anti-smoking-campaign-cigarettes-art/234001/
http://aafprofessional.wordpress.com/2012/04/09/anti-smoking-messages-and-persuasion/

Jumat, 11 Mei 2012

Rumah Amfibi Anti Banjir

Dahi saya mengernyit saat membaca artikel tentang “la quartier amphibie” (daerah amfibi) di Belanda, dalam buku pelajaran bahasa Perancis kala kursus di CCF. Nggak mudeng. Perumahan katak untuk antisipasi banjir; maksudnya? Jadilah saya berdecak kagum setelah Madame Habibah, guru kami, menjelaskan tentang fenomena canggih ini.
Kita tahu, Belanda sangat datar dan sebagian tanahnya berada di bawah atau sedikit di atas permukaan laut. Sesuai namanya yang berarti “negeri yang rendah”. Maka bagi Belanda, pemanasan global sangat mengkawatirkan. Apa jadinya jika kian banyak es di kutub yang mencair dan permukaan laut kian tinggi? Pastinya nasib Belanda akan jauh lebih buruk ketimbang Jakarta yang terendam kala hujan deras atau banjir rob. Belum lagi, ada tiga sungai besar di Eropa yang melintasi Belanda dalam pengembaraan mereka menuju laut: Meuse (Maas), Rhine (Rijn), dan Scheldt (Schelde), yang tentu berpotensi menimbulkan banjir. Hebatnya, ancaman ini justru melebarkan sayap pencapaian Belanda. Betul kata anekdot, “Tuhan menciptakan dunia, dan orang Belanda menciptakan Belanda.” Terciptalah rumah amfibi yang membentuk kota ‘anti air’. “Kita tidak bisa melawan air, yang harus kita lakukan adalah belajar hidup bersama air,” ucap Sybilla Dekker, Menteri Perumahan, Perencanaan Ruang dan Lingkungan Belanda 2003-2006.
Salah satu perumahan amfibi yang pertama dibuat ada di Maasbommel, tepat di sisi sungai Maas. Secara fisik, rumah-rumah ini tidak berbeda dengan rumah ‘normal’. Tapi, cobalah berkunjung ke sana saat permukaan sungai naik dan air meluap hingga banjir. Si empunya rumah hanya akan mengobrol di teras sambil menyesap teh seperti biasa, bukannya panik dan buru-buru memindahkan barang-barang ke lantai atas. Silakan banjir, rumah akan mengapung mengikuti kenaikan permukaan air!
Gudang bawah tanah rumah tidak dibangun di tanah, melainkan di atas peron dari beton. Gudang ini tidak hanya sebagai ruang penyimpanan, melainkan juga sebagai rongga yang berfungsi layaknya lambung kapal yang menghasilkan daya apung. Nggak perlu was-was rumah akan hanyut terbawa arus air karena rumah ditambatkan dengan sliding ring ke tiang-tiang baja. Jadi begitu banjir usai, rumah pun kembali menjejak tanah di tempatnya semula. Lantas, bagaimana dengan listrik, gas, air dan pembuangan? Semua ini terbungkus rapi melalui pipa fleksibel yang berada di dalam tiang baja.
(Salah satu tiang penambat rumah)
Rumah-rumah ini belum mengapung, namun diprediksi, akibat perubahan iklim, akan terjadi banjir di Belanda setiap 12 tahun. Kementrian Pengelolaan Air dan Lalu Lintas Belanda telah merancang 15 area perumahan, bisnis bahkan pertanian yang bisa mengapung.
Jenius! Inilah ketika kreativitas, imajinasi, seni dan ilmu pengetahuan diramu secara apik. Bukannya terpikir untuk membangun tanggul maha tinggi di sepanjang sungai seperti pemikiran orang kebanyakan, mereka melompat jauh dan menciptakan perumahan yang tahan banjir. Orang Belanda menyadari, tanggul bisa menjadi senjata makan tuan. Jika sungai banjir dan permukaan laut naik hingga melewati tanggul, semua akan tenggelam dan tersapu air. Lebih gawat lagi, air yang sudah masuk, jadi terperangkap; tidak bisa keluar lagi karena terhalang tanggul. Tamatlah riwayat belanda. Konsep “rumah amfibi” menjawab persoalan ini. Ini seperti letupan yang membangunkan kita dari tidur berkepanjangan: kata siapa kita harus tinggal di tanah kering? Solusi cerdas yang luar biasa cocok diterapkan di Jakarta. Mungkin nggak ya?
Sumber: http://www.spiegel.de/international/spiegel/0,1518,377050,00.html
http://inhabitat.com/amphibian-houses-rising-water/
http://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=18480769
http://www.csmonitor.com/2005/1026/p13s02-lihc.html

Selasa, 24 Januari 2012

"would you be my bride--" dont get too exited. there's MAID behind the "b" word

hey my blog..apa kabarnya??akhirnya inget untuk nyoret-nyoret blog lagi setelah...lebih dari 1 tahun! *postingan terakhir tertanggal 5 januari 2011*

ke mana sajakah saya selama ini? mungkin sempet bercokol di Negeri Singa? atau ngendon sebentar di Negeri Gajah Putih? ga pulang2 k kampung halaman karena lupa jalan pulang..halah.oh i have so many things to write,but a bit confusing where to start. nanti2 saya cerita deh (meski gak ada yang baca juga, hahaha). lha jadi, sekarang ngapain ujug2 pengen nulis? pastinya ini penting banget.

malam ini, 24 januari 2012, baru aja beberapa jam yang lalu, saya diminta jadi bridesmaid oleh sahabat saya priska siagian alias butterfly. sejak nonton film 27 dresses,saya jadi terpikir. udah sekian banyak kondangan yang saya datengin. apalagi 2-3 tahun terakhir; kayaknya temen2 sd sampe kuliah kompakan nikah (ya iyalah - -"). tapi ga sekalipun--er koreksi, mungkin 1-2 kali,tapi ga banyak bantuin juga--saya pernah terlibat dalam kepanitiaan apalagi jadi bridesmaid! padahal temen2 saya yg lain, berkali-kali terlibat untuk bantuin nikahan.

teralienasi. mungkin itu kata yang paling tepat untuk ngegambarin apa yang yang saya rasain tentang hal ini. sampai sempat terpikir, mungkin saya ga akan pernah diminta untuk jadi bridesmaid..

ya, banyak banget hal yang bikin saya ga diminta untuk bantuin pernikahan. pertama, saya autis; ga punya banyak temen / sahabat. kebetulan, kok ya sahabat-sahabat saya belum ada tanda-tanda ke jenjang pernikahan (which is, make me glad, for it means that i have more time to spend with them *the selfish me). mungkin temen-temen saya juga males minta tolong ke saya karena saya suka mendadak jutek, sering ngilang tanpa alasan, dan mungkin juga ini yang paling penting: saya gak tertarik untuk menikah. mungkin mereka pikir saya skeptis ya sama pernikahan? iya kalo menyangkut diri saya tapi bener deh, keskeptisan itu gak ditujukan ke orang-orang selain saya :)

kembali ke priska. yang saya ga habis pikir, priska sangat nervous saat mau nanya kesediaan saya untuk jadi bridesmaid. tiba-tiba mimik dan gesturnya malu-malu dan grogi. tampangnya sumpah nggak banget, kayak mau nembak orang. mendadak saya juga jadi grogi kayak mau ditembak (sotoy dikit.. padahal saya ditembak juga ga nyampe jumlah jari di satu tangan :D). oh priska.. are you kidding me?? to be honest, that was one of the best moment in my life! i was so surprised and glad that i lost my words. she even asked me to help her choosing the color, making designs for the cards--gosh, it was as good as if being asked to make cover album for kings of convenience! dan dengan amat sopan, priska bilang kalo saya gak bisa pake converse saat jadi bridesmaid nanti, hahaha. gila kan prisk, begitu besarnya pengorbanan gw! gw rela loh ngeganti converse busuk gw dgn sepatu cantik di hari H lo! :))

sepanjang perjalanan dengan ojeg menuju rumah, saya ngebayangin konsep design untuk kartu, bahkan gaun pengantin yang mungkin cocok untuk priska, hihihi.

priska, daniel, semoga berbahagia. doa terbaik untuk kalian.

Rabu, 05 Januari 2011

our old school

ok,i know you're gone. and i know that it's kinda insane for expecting you read this posting. but i just wanna share a little thing about our high school, the legendary 54! yeaaah!

msh inget,bbrp taun lalu gw pnh kasi laporan singkat ttg ex RUMADAFFA,wkt lo msh di serang?nah skrg,gw kembali dgn laporan lain,,ttg sekola kita :D

gw barusan wawancara dokter di RS PRemier Jatinegara,yg adl RS mitra keluarga di zaman dahulu.kelar wawancara jam 21.30,gw makan sate padang di dpn rs.lalu tergerak keinginan utk jalan2 ke sekolah..waa kpn terakhir kali gw ksna??apalagi lo ya!hehehehe.

lalu melangkahlah gw,masuk lg k rs, menuju gerbang belakang.dan gw terkaget2 krn skrg d dkt gerbang blkang,ud ada jalan menuju gedung parkir yg superguede.keluar gerbang,gw nyebrang ke jalan masuk sekolah. barisan pohon angsana di sblh kiri jalan ga berubah,mobil2 bekas di sblh kanan d dpn kantor kelurahan jg ga berubah.tapi skrg,masa sepanjang lapangan bolanya dikelilingin pager tembok! lapangannya juga ud pk konblok,ga lagi tanah berbatu yg ngebul bgt kalo siang hari. nah, di ujung2 lapangan, gawang bolanya sih teuteup aja bapuk kyak dulu ;p

dan gw terbengong-bengong begitu ngeliat sekola kita! gilaaaaaaaaa kyak sekolahan anak pejabat.mentereng bener! skrg gedungnya 4 lantai dgn cat ijo menyala,dan ga lagi cuma berbentuk kotak kyak sarang burung!skrg pk atap,,ga datar kyak dulu.. trus masjidnya, iya masjidnya, pindah! kalo dulu nempel sma bangunan sekolah shg mciptakan peluang yg sgt baik utk cabut,skrg dia berdiri sendiri dgn megahnya,di tempat yg dulunya jalan masuk dr gerbang. oia,gerbang masuknya jg berubah posisi!skrg tepat di ujung jalan,sblm belokan.

jejeran rumah di sepanjang jalan seberang lapangan ga byk berubah.cuma ad 1 rumah yg skrg terlihat kinclong bgt.nah wktu zaman gw dulu,ad rumah yg punya genio dgn cat ungu metalik yg menawan bgt!skrg,genio itu digantiin sma honda jazz biru (yg sayangnya,warnanya sma sekali ga menarik!) hal lain yg ga kalah mentereng yakni kantor lurah.skrg bertingkat2 dan megah bgt!wuidiiih...

oke,harus gw akui, terbesit sdkt sesak saat inget lo. bertaun2 lalu, kita menapaki jalan yg sama..,meski ga berbarengan (ya iyalah..kita kan beda dekade! :D).eh inget ga?kita pnh berencana main2 k 54,barengan.tp lo ud keburu pergi sblm terlaksana..mski gw tau sih,itu cuma 1 dari skian byk rencana yg kita omongin tanpa pnh difollow up,hehehe.jd malam tadi,gw ngewakilin kita,bertandang ke sekolah.or..were u be with me?did u see what i saw?i thought (or i hope??) i felt your presence..

...jalan2 malem yg menyenangkan.enak bgt loh jalan kaki malem2 di bawah naungan pohon angsana. anginnya jg sejuk.meski pas balik dan nunggu 44,gw baru sadar,klo tnyt ud malem bgt dan 44 ud gda lagi.jadinya gw nerusin jalan kaki smp kpg melayu,smbil bertanya2 enaknya naik apa.. eh ad mikrolet 54.pdhl namanya sma kya nama sekolah,tp gw blm pnh naik mikrolet ini!jurusannya pun gw gtau dia ke mana..cuma gw dgr,'calo'nya blg, "pondok bambu, kali malang!" naiklah gw.turun d pondok bambu trus naik m31 smp pdk kelapa.jam sgtu,m29 ud ga beroperasi (a cause de ojeg!zut!!).trus gw jalan kaki deh sampe rumah..bener2 jalan2 malem yg menyenangkan :)

sekian laporan dari nidandelion pedestrian untuk pecandupagi.copy.

Senin, 27 Desember 2010

surat kecil untuk Tuhan



Tuhan, kenapa duka ini begitu dalam?
aku tahu, Kau menjaganya dengan baik sekali di surga-Mu..
tapi hati ini perih, Tuhan, tiap kali memori tentangnya muncul
aku kehilangan dia Tuhan..

Tuhan, aku bukan siapa-siapa
mungkin pernah menjadi sahabat baginya
(kalau masih bisa disebut sahabat, dgn kelakuan burukku padanya setahun ini?)
mungkin aku terlalu cengeng ya, Tuhan
duka 'Nda dan keluarganya pasti jauh melebihiku
tapi mereka bisa menghadapi kepergiannya dgn kebesaran jiwa yg (sayangnya) ga aku miliki..mungkin itu cinta yg tulus, ya, Tuhan?
dukaku mungkin lebih banyak diiringi penyesalan
harusnya aku bisa berbuat lebih untuknya di saat-saat terakhir
meski itu mungkin hanya sekedar sapaan hangat di telepon
atau mengunjunginya dengan membawa kartu bikinanku sendiri..
aku terlalu pengecut untuk melakukan semua itu, Tuhan..
terlalu banyak alasan yg bikin aku takut..
akhirnya dia pergi tanpa aku sempat mengucapkan salam perpisahan
atau bahkan maaf..
sejuta tanyaku terkubur bersama pusaranya
pertanyaan-pertanyaan yg gak lagi penting

tapi ada sedikit tanya yang masih tersisa, Tuhan
di surga-Mu sekarang, masihkah ia menyimpan memori tentang kehidupannya di bumi?
kalau nanti aku diijinkan ketemu dia lagi, apakah kami masih saling mengingat, Tuhan?
Tuhan, bolehkah minta, satu saat saja di masa ini, aku bertemu dengannya?
seperti apa dia sekarang, Tuhan? aku bahkan ga inget, kapan terakhir ketemu dia
izinkan aku mengucapkan salam perpisahan, lalu bilang "a bientot!" sampai ketemu lagi

benih-benih dandelionku kerap basah oleh sendu..
gak bisa terbang memulai perjalanan baru
Tuhan, aku merindukan diriku, dandelion yang selalu bertualang
bantu aku sembuhkan luka ini, Tuhan..

-aku masih berduka, Norvan..-

Minggu, 26 Desember 2010

when biking meets walking

ya, bbrp bulan belakangan ini saya "beridentitas ganda"; sbg pedestrian atau pesepeda. hebatnya, saya pernah menjalani kedua identitas tsb berbarengan! ini tjd minggu lalu, waktu saya sepedaan di sore hari yg indah sehabis hujan. perhentian pertama, ATM. believe or not, ini pertamakalinya sya bawa dompet saat sepedaan/jalankaki sekitar rumah. abis itu saya k bengkel sepeda di mawar merah utk mompa ban. lalu, berangkutlah saya memulai petualangan sore, sambil berharap akan muncul pelangi :)

dari bengkel sepeda, saya melaju ke teratai putih, melewati gang-gang yg blm pnh saya lalui. tibalah saya di gang yg berlapis konblok; jalannya ga rata, menurun, dan byk polisi tidur (pdhl ud pk konblok, teuteup aj ya org indonesia hobi bgt miara polisi tidur :p); alhasil saya harus sering-sering ngerem. tiba-tiba, DUAR! saya kaget, dan langsung brentiin sepeda. semua orang di gang itu kaget dan nyari sumber suara. lalu ada yg ngomong, "Itu suara ban pecah! mbak, itu bannya pecah!" Haah?? bener aja, ternyata ban depan saya udah ga bernyawa! ampun deh.

dgn petunjuk seorang ibu, saya menuju jalan besar utk nyari bengkel sepeda yg menurut beliau, ada di dkt portal. jalan gede ud saya temuin, portal udah keliatan. lah tp mana bengkel sepedanya? "tp mgkn klo sore gni ud tutup neng, jd coba aja ke YAKRI; ada tuh di depannya," bgt pesan beliau tadi. maka saya pun meneruskan perjalanan, dgn sepanjang jalan bertanya2, 'where the hell is yakri?'

ujung teratai putih udah saya lalui, lalu saya berbelok ke rumah susun, dan akhirnya dgn hopeless berpikir, bahwa mau gamau saya mesti balik lg ke mawar merah. krn udah kadung di rusun, jadi ya terpaksa deh muterin rusun utk nyampe lg ke bengkel sepeda t4 saya td mompa ban. sepeda saya tuntun sepanjang jalan..langsung deh terngiang lagunya SORE, "jauh perjalanan..mencari intan pujaan.." herannya, saya cuma kesel sdkit dgn insiden itu. malah boleh dibilang,saya ckp menikmati, dan spanjang jalan ngerasa geli sndiri, hihihihi.

yg bkin kesel mah biasa, orang2 kurang kerjaan yg mulutnya usil minta dicabein. eh tp jgn deh, cabe lg mahal. guila aja, masa sekilo 60rb?? nah kmbali k org2 usil. "sepedanya knp neng? wah bannya gembos ya? bengkel sepeda mah jauh dr sini neng. hayu dianter aja pk motor" menurut lo?? trus sepeda gw pangku gt?? kalo gabisa ngasi solusi mah diem aja deh. sini gw kasih makan lem, biar jgn byk bacot! jd sewot sayah..

stlh 45 menit nuntun sahabat merah saya, nyampe jg deh di bengkel sepeda! untung bgt, alhmadulillah, hari itu saya bawa dompet!! lalu saya menuju supermarket terdekat, dgn harapan bisa makan es krim yg iklannya lg gila2an d tv smpe stoknya slalu aja abis. sialnya, kali ini pun saya keabisan! ikh syebal.. tp jg seru, krn di antrian kasir, stlh skian lama sya asik sndiri dgn pikiran saya, saya menyadari kalo d dlm antrean itu, 2 org d dpn saya, adl temen CCF saya, anton! istrinya, eka, br aja ngelahirin. rumah mreka d pdk kelapa, dan sya srg nebeng klo plg les,hehee jadilah kami nongkrong d dpn supermarket smbl ngobrol sore2:) trus dia nganter saya deh ke bengkel sepeda, asyiiik dpt tebengan (lagih)! ;p

nah kebetulan, bngkel sepeda saya terletak d mie bangka yg superlezat. si anton ini jg penasaran, krn sya srg cerita ttg mie ini. dan krn kami sama2 kecewa keabisan es krim, jadinya kita jajan mie ayam bangka..nah petualangan sore ini diakhiri dgn soundtrack tembang lawas "jalan sore, kita berjalan-jalan sore-sore.." btw itu lagunya siapa ya?

Kamis, 23 Desember 2010

cecoretan..



tepat 2 minggu lalu yakni 9 desember, saya kehilangan salah seorang sahabat terbaik saya. sahabat semua orang, sebenarnya, kalau boleh dibilang. mengutip pernyataan seorang teman saya, mangepi, "meski cuma kenal norvan sebentar, kyak kenal dia seumur hidup." wew karena ini blog seorang pejalankaki, "terpaksa" topik kembali harus saya luruskan di trotoar (= jalur pejalankaki :D)

udah sekitar 2-3 bulan ini saya sedikit "berkhianat" dari predikat sbg pejalankaki. ga lain ga bukan, saya punya sepeda! sepeda bekas super murah yg rantenya srg ngadat, tp jd temen setia bbrp bulan terakhir ini. mau tau apa yg bkin bersepeda itu sgt menyenangkan? lagi2, saya kmbali mengutip pernyataan orang. kata lance armstrong, saat kita ada di atas sepeda, kita ngerasa bebas dan merdeka. "sepeda bebas untuk dikendarai, tanpa aturan dan tanpa orang dewasa." it's why children love bikes! ;)

dan alasan ini jg yg bkin saya makin tergantung sama sepeda. stlh kepulangan sahabat saya ke rumah-Nya, saya kyak orang linglung. i kept myself very busy so i didnt have time to think about him. tp ttp aj, kala saya sendiri--terutama di kendaraan umum--mata saya kembali tergenang air yang kerasa anget dan nyesekin dada. biasanya, saya selalu jalan kaki kala sedih. tapi kali ini,ga banyak membantu. saya malah keinget, btapa dulu saya sering jalan kaki brg norvan.

ternyata, saya nemuin "penyembuhan" dari sahabat baru saya si sepeda merah, saat jalan kaki ga lagi cukup utk nyembuhin luka.. every morning and evening, i ride my dearest bike. it heals me quite a lot. saya ngerasa tenang bgt kala ngerasain angin ngehembus lembut wajah dan rambut saya.

ada bbrp hal knp kali ini bersepeda lbh mujarab buat saya. saat naik sepeda, saya "dipaksa" fokus; fokus ngemudiin stang, fokus ke jalan di depan serta kanan-kiri-belakang. juga fokus utk ngerem, dan pasang telinga klo ada suara2 'peringatan' (baca: klakson, suara anak2, dsb). jadi gda tempat buat pikiran kosong yang pd akhirnya akan diisi oleh kenangan ttg norvan. maka, saya dapet endorfin scr optimal, tanpa ngebiarin pikiran keisi hal2 yg sedih :) dan juga, saya msh belum sanggup ngenain sepasang converse yg plg saya suka, yg dibeliin priska&edi utk kado ulangtaun saya. itu converse yg saya kenain ke pemakaman norvan. masih ada jejak tanah merah lekat di sana.. hal yg bkin saya tanpa sadar selalu memejamkan mata saat ngelewatin rak sepatu. akh, ternyata saya begitu sentimentil..

hmph, cuma mau cerita sdkt. semingguan lalu, ponakan saya ntn film--entah judulnya apa. yg pasti, pascanonton dia ketakutan; katanya, di film itu, temennya si pemeran utama yg udah meninggal, dateng dan gangguin dia. lalu dgn spontannya saya berpikir, "gosh, i'm dying to have norvan walk beside me again!" saya ga akan takut; malah seneng bgt!

tiap malem saya selalu berharap dan berdoa, norvan akan mampir di mimpi saya. tp dia ga muncul2 juga..ya kalo dipikir2, gamungkin jg sih. temennya kan buanyaaaak..blm lagi keluarganya yg syang bgt sma dia. perlu waktu berapa lama kan klo semua orang minta dia mampir di mimpi mereka? tp bener deh, saya pengeeeen bgt, suatu saat nanti entah kapan, saya liat dia tau2 jalan di samping saya, sambil cengar cengir cengor kyak biasa. meski kemungkinan besar kita gabisa ngobrol juga. lalu kami jalan bareng, natap langit sore yg kemerahan dan rumput basah abis ujan. dan mengagumi pelangi yg akan ngebawa dia kembali ke dunianya..

..i'm still missing you so much by pal..

Jumat, 10 Desember 2010

teruntuk sahabatku sang pecandupagi






*pic terakhir: pohank kita kubur idup2,hihihihi


waw..sudah lama sekali saya tidak menggauli blog! barusan ketemuan sama priska, dan dia cerita betapa byk org yg buka blog dia soal norvan. makasih byk ya priska untuk tulisannya itu..meski sebenernya saya getir banget; saya yg ngakunya sahabat dia ga pnh nulis ttg dia. alasan utamanya, saya ga sanggup. sejak saya denger kabar dia sakit, yg terbayang adalah kekonyolan dan senyum lebarnya itu..ga kebayang kayak apa kalo dia sakit? saya gak tahu gimana cara nulis untuk nunjukin empati saya,tanpa terbawa emosi dan akhirnya malah cengeng. oke, cukup preambulenya. saya rasa, skrg saatnya saya nulis kenangan tentang seorang norvan hardian sang pecandupagi. ya, saya sudah siap..

waktu di jatinangor, norvan adl salah satu temen jalan kaki saya. meski cuma sebatas rumadaffa (toko buku yg saat itu dikelolanya dkt gerbang unpad) sampe pangkalan damri/batu api/gerbang kosan saya. atau sekitaran braga di masa2 kejayaan sheath. betapa saya takjub denger cerita2nya dan cara dia bercerita, dan sepanjang jalan dijamin saya ketawa terus kayak abis makan jamur ajaib :)

padahal waktu pertama kali kenal di minor--kalo gasalah thn 2003--saya takut banget sama anak ini. saya diajak temen saya congor ke markas minor di daerah sukajadi.gila aja, saat itu siang2,muncullah norvan dgn sebotol minuman yg dbungkus plastik item (tentu bisa kalian tebak isinya). lengkap dgn kaleng berisi papir dan serbuk daun. FYI, di ruangan itu saya cewek satu2nya; cuma congor seorang yang saya kenal; dan saat itu saya masih jadi anak manis nan lugu..ahahahai.pertama kali liat norvan? "ini orang nggak bgt deh...," begitu pikir saya. cunihinnya ga ketulungan, udah gitu gaya rambutnya british abeesh,tapi celananya ngatung,converse tinggi butut,kemeja kotak2..halah punk bgt!kiblatnya ga jelas!hahahaha

menjelang masa2 krisis bikin skripsi pertengahan 2005, saya ketemu lagi sama si norvan--stlh skian lama ga ketemu dan ga kontak2an (kalopun dia sms,ga pernah saya bales krn maleuss..). congor ngajak saya ke rumadaffa,yg wkt itu blm buka scr resmi. entah knp,pas ktemu lg itu ad perasaan akrab,kyak ktmu sahabat lama. sejak itulah persahabatan kami dimulai, and the journey was about to begin...

perjalanan pertama kami yg lumayan jauh yakni pangandaran. rencana awal sih batu karas,tp akhirnya stuck di pangandaran..duduk di kursi bis paling belakang, saya,norvan dan kimung asik bersenang2 dgn "rempah" sepanjang jalan..hehehehe.sungguh masa muda yg menyenangkan! :D nah di cicaheum sblm brangkat,kim beli rokok dgn kemasan DJ***M COKLAT, tapi merk-nya JAMUR COKLAT, lengkap dgn logo jamur segede metromini. "wahaha...ini pertanda kita harus mushroom di sana!" pikir kami kompak. sialnya,dpt mushroom yg kecil2 (pdhl lg musim ujan!); susah dibersihin (jadi bgitu digigit berasa tahi sapi plus tanah2..yeeukh!). dan efeknya? kita betiga terduduk lemes di pantai, bengong, bloon dan nguantuk luar biasa kayak abis minum obat penenang.keruwetan mkn bertambah kala kamera kim (saat itu msh kamera rol,bayangkan! :D) gabisa lg dijepret,eh malah rol-nya kegulung.yaah..gagal deh moto sunset.tp galama kita cekikikan; lah ga ngaruh jg moto sunset, wong film-nya item putih :)

krn kim dan norvan blm puas,lantas sisa mushroom dicampur kopi,malem harinya.hooek,gaenak bgt!jamu kunyit asem aja kayaknya amsih lbh enak deh (ya iyalaaah..).trus kita jalan2 k pantai;dgn sdkt parno krn ada seseorang yg drtd ngeliatin kita terus.bentuknya aneh; entah mucikari atau bencong..badannya gede,mukanya serem,tp pk baju cewe.dia bolak2 terus d dpn kita.mgkn minta direspon,tp ga brani tlalu dkt krn ada saya (cewek).sampe suatu ketika, saya dgr norvan dan kim ngomong, "apakah itu orang yg sama?", dilanjutin dgn kim nepuk bahu saya, "nid? jgn bengong aja.." oke, pengaruh mushroom dll, saya luar biasa bego.pikiran saya udah jauh melayang di antara bintang2..eh nggak deng,saat itu mah berawan.pas balik ke hotel,mereka ngebahas..tnyt,saat itu mereka sadar kalo si orang aneh itu baru lewat di depan kita dari arah kanan.eh berapa menit kemudian,muncul lg dari arah yg sama!tapi saat yg kedua kalinya muncul ini,auranya kerasa beda.mukanya tampak lebih gede,lbh putih,tp ga jelas dmn mata,dmn idung..hiiiii.so we named him/her/it(??) UWO:unidentified walking object,hekekekek.nah lucunya,pas mereka bdua lagi parno2nya, orang aneh ini muncul lagi,trus dia kesandung, dan spontan nyalain senter sambil blg, "e-ee-eeh".wahahahahaha anti klimaks! baru deh kita ketawa2 kayak orang gila di hotel. ternyata efek si mas rum baru kerasa stlh kejadian horor!wakakak

suatu hari,norvan pensiun jadi temen jalan kaki saya krn dia punya motor! namanya Nurdin; lengkap dgn keranjang sepeda, disusul kmdn dgn bagasi,dan helm yang dikasi sayap di sisi2nya kyak saint seiya. saat itu anak2 sheath lg menikmati sore yg indah di kosan mangepi-congor-mas don di dagotimur. "ayo nid, gw anter sampe atas!" kata si norvan dgn semangat. wuih, tebengan ga mungkin disia2in dong! FYI, dago timur itu jalannya curam bgt. alhasil dr kosan menuju ujung gang,tanjakan tiada terkira. di tengah pendakian,norvan telat ganti gigi, dan saya jatuh dgn suksesnya! "Nid? kok lo jatoh sih? cepetan bangun,keburu ujan," dgn kalemnya beliau berbicara demikian.usut punya usut,tnyt saya adlh org pertama yg diboncengnya!jd ceritanya test drive.siaul!!!dan tanpa ragu2,besoknya dia ngajak ke batukaras,pk motor. busyet!baru d dagotimur aja saya udah jatoh,gmn nyampe batu karas??

kalo ini,cerita waktu mangepi nikah,awal thn 2005.saya,norvan dan pohank bergegas menuju sukabumi, rumahnya Ina, (saat itu) calon istri mangepi,dmn venue akan dilangsungkan.pdhl,manegpinya aja msh di kampung halamannya di ciamis; saya bahkan ga kenal ina apalagi keluarganya,hehehehe.tp ini seru bgt,krn kita betiga sok2an jd sukarelawan bantu2 nyiapin acara pernikahan. rumahnya ina enak bgt! terletak di kabupaten cibadak,sukabumi.halaman belakangnya, gunung kapur!tiap pagi/sore kita betiga ditemenin dimas,adiknya ina,jalan2 ke gunung,padang ilalang,reruntuhan pabrik kapur..nah di gunung kapur ini,saya nemuin batu2 kotak, kecil2.jadilah saya dan norvan berlomba2 nemuin batu serupa, dan tnyt banyak loh! oke,gunung kapur ini emang "digerus" buat diambil batu2 kapurnya.jd jgn kaget kalo tiap berapa menit kedenger bunyi "bum" pelan kala gunung diledakin,dan airnya terasa asam krn tercemar.tp knp pecahan batu2nya bisa berbentuk kotak ya?sayang,saya ga ngejaga koleksi batu2 kotak ini,dan kececer entah dmn..

kyaknya itu perjalanan terakhir saya bersama sang pecandu pagi..ga lama kmdn saya balik ke jakarta (dlm artian ga balik2 lg k bdg) krn dpt kerjaan.bbrp blm kmdn norvan menikah.berakhirlah journey trip kami,krn kami punya journey trip sendiri-sendiri untuk dilanjutin :)

norvan skrg ngelanjutin journey tripnya di kehidupan abadi..yah,meski saya nyesel bgt ga smpt nengokin waktu dia sakit,bhkan ga smpt ngeliat dia untuk terakhir kalinya krn saat saya datang ke makam bersama anggun,adiknya mangepi,jenazahnya udah diletakkan di liang,dan tanahnya lagi ditutup lagi.tp mgkn emg itu yg tbaik ya?mgkn saya ga akan kuat ngeliat dia terkulai lemah saat sakit,atau ngeliat jenazahnya dibalut kafan.. 'Nda,istrinya,tegar bgt.dia ga nangis,sesuai permintaan norvan.wah kalo saya d posisi 'Nda,pasti dgn kurang ajarnya saya akan blg: "enak aja lo nyuruh gw ga nangis!lo pikir????!!".maka beruntunglah dia,'Nda bkn tipe org kyak saya :) td ketemu kim di makam,dan dia blg, "tinggal kita berdua ya nid.." huaaaa....mewek lg deh..

hmmm skrn norvan lg apa ya? "lagi gambar karikatur Tuhan," saya nyengir. "haha,iya. dengan 6 lubang hidung," kata priska.baik2 di sana ya van..gw bakalan kangen bgt sama lo.setaunan ini kita jrg bgt ngobrol ya?sumbu emosi gw kian pendek;dipantik sdkt aj udah meledak2 kyak mercon.gw gampang bgt marah sama lo..oh,how silly..maafin gw ya..meski gw tau,lo udah jauh2 hari maafin gw.lo selalu bgitu.ga pnh dendam.duh gw mau nangis lagi.maaf gapnh bisa nahan nangis..gw ga sehebat 'Nda.van,klo ad waktu,mampir2 ya di mimpi gw..kita ngobrol2 lagi sambil jalan kaki :)

oia,baru sekali ini ketemu keluarga lo.ranu dan vulkan ganteng bgt;persis lo dan 'Nda. si Mama,gila mirip bgt sama lo! Abah jg ganteng.dan keluarga kalian mirip-mirip ya!!nah kalo lo ktemu kluarga besar gw,pasti ga akan ngeh,krn pada ga mirip,hihihihi.

selamat jalan sahabatku.smg gw bisa ninggalin bumi dgn senyum dan ketabahan kyak lo ya..btw,td gw nemu pohon dandelion di pinggiran tembok rumah lo.dia nyampein salam gw kan?peluk hangat dari sahabat lo yg kurang ajar ini ya :)

-ur beloved friend, nidandelion-

Senin, 25 Oktober 2010

ujan=banjir=NERAKA JAKARTA

25 Oktober 2010. Hari ini, penduduk jakarta tumpah ruah di status FB guna ngelepasin emosi mereka gara-gara macet di mana-mana gara2 ujan. duh basi bgt deh, dari dulu, masalahnya ga pernah berubah!

saya kutip beberpa status:
* "besok gak usah pd bw mobil d,ganti sampan aja.deal yaaa!10 titik jakarta banjeeerRrr"
* "J'ai faim mais je suis encore dans la rue et il y a des embouteillage.. :-("
(saya laper tp masih d jalan, dan macetttt)
* "Ga jadi pulang! Hiiyyy ada banjir di turunan/kelokan warung buncit. Yak. Mari nginep di sekitar kantor.."
* "bingung mw pulang naik apa..... dari tadi ngga liat bis lewat di depan kantor"

status yg bkin nyengir (=sarkas, lucu, nyentil):
* "nikmatnya punya banyak hutan beton. Ketika hujan melanda banjir datang menyapa, macet menjadi hiburan..."
* "Penasaran,Fauzi Bowo punya FB atau Twitter kaga ya.Kan seru kalau dia dihujat jamaah Al Facebookiyah sama Al Twitteriah setiap kali jakarta macet total gara-gara ujan!!!"
*"jakarta macet.....? biasa...!!! jakarta banjir...? hmm biasa juga..?? tapi klo jakarta jam 22.00 masih macet juga...? "woi... pada ga tidur apa kalian??!!"

dan status yg sangat masuk akal:
"Macet ya?...mangkanya naek sepeda..cepet sampe rumah..sehat, ngga buang bensin, ngga nyumbang polusi, keluarga bahagia.."

saya bersyukur banget gawe di rumah, dan hari ini ga ada urusan keluar (phew). tapi saya ga pernah abis pikir; emang sebener-benernya ya, apa sih korelasi ujan sama macet??saya bertanya-tanya, apa di negara lain juga tjd hal yg sama? rasanya nggak.. jadi, apa yg salah dgn JAKARTA?? ga adil bgt ngambing-hitamin ujan tiap kali macet begini. perlu diingat, kita ini negara tropis dgn curah hujan yg tinggi. perlu lagi diingat, jakarta itu kota 'muara'; limpahan ujan dari bogor ya ngalirnya via ciliwung utk nyampe ke laut. kayaknya lbh bijak kalo kita memperbaiki kondisi jakarta keitmbang merutuki hujan.

logikanya, harusnya, jakarta itu bebas banjir. yg bangun drainase awal di jakarta itu kan orang belanda, yg konon negerinya di bawah laut. kalo drainase itu dirawat dan kita ngebangun kota beserta pola drainase yg baik kyak lengseran kolonial, HARUSNYA banjir ga terjadi! dan kalo ga banjir, ga akan macet gila2an tiap kali ujan kan?

problematika kedua, orang2 jakarta tuh idup di lingkaran setan. krn angkutan umum ga nyaman, maka byk org yg beralih ke kendaraan pribadi. kendaraan pribadi mkin byk, maka jalan makin macet. maka (lagi), angkutan umum makin ga nyaman. ujung-ujungnya, makin byk lagi org yg berkendaraan pribadi, dan siklus setan ini terus berulang. terberkatilah orang2 yg telah sukses memotong siklus ini dalam hidup mereka: para pengendara sepeda. bagi kaum proletar macam saya yg ga mampu beli sepeda yg mumpuni utk menjelajah jakarta, ya harus puas berteman setia dgn angkutan umum.

ok, kembali k urusan kendaraan pribadi. utk ngurangin hal ini, satu2nya jalan ya bikin angkutan umum yg nyaman. copba liat tuh d negara2 maju; berapa byk sih yg punya kndaraan pribadi? iyalah..angkutan umumnya nyaman banget kok! oke, buat ngebangun subway d jakarta kyaknya masih blm memungkinkan karena ya itu, BANJIR! dan mental kebanyakan org blm siap utk subway. yg ada nanti malah ga kerawat, jd kumuh dan mengerikan (jadi inget filmnya monica belucci "irreversible" saat dia nyebrang jalan lewat subway..hiiiii). monorel oke bgt, tp ya pasti muahal bgt ya.uang kita kan ud abis buat dipake foya2 sgelintir orang...

busway sbnrnya potensial bgt buat ngurangin macet. tp yg tjd adl, justru busway nambahin macet! kalo aj armadanya dibanyakin, bisa bgt kok narik minat para pengendara kendaraan pribadi utk beralih k busway. trus, knp jg sih ga dibkin sistem kyak MRT? jd pake kartu aja... gausah repot2 nyiapin uang receh,ngantri di loket, dsb. dan dgn sistem kartu kya gni ya,org jd punya 'ikatan'. skali naik busway,mreka ga akan sgampang itu beralih dari busway. logikanya lho... dan yg plg saya sesali, knp jg sih busway tuh cuma sampe jam 10 malem?? man, ini jakarta! orang2 baru pd pulang kerja jam sgitu! okelah,gausah 24h. paling nggak, sampe jam 12 aj..dan klo weekend, ditambahin sampe jam 2 pagi. kita mau kok byar lbh mahal utk angkutan umum yg aman dan nyaman. alangkah enaknya bisa plg malem dgn angkutan umum tanpa deg2an, takut, cemas dan parno.

nambahin armada busway mahal? oke, saya ngerti. tp apa ga terpikir ya, utk ngegandeng pihak swasta pemilik metro mini, mikrolet, angkit, dsb. bisa aja kan dicoba,minta mreka utk ngurangin armada mreka, jual sebagian aset mreka utk investasi di armada busway. para sopir yg di-PHK, dkasih ksempatan utk ngelamar jd sopir busway. jd gda pihak yg ngerasa dirugiin kan?

saya cuma seorang sipil, yg gak punya pengetahuan apa2 ttg ngurus kota, pemerintahan, apalagi negara. tapi saya dan 8.505.273 (minus kep. seribu) orang lain juga bagian dari kota ini--muak tiap hari ngehadepin ujan, banjir dan macet. saya yakin, mereka yg duduk di "kasta atas" (baca=pemerintahan) tentu punya kemampuan dan kepintaran melebihi "rakyat jelata" yg dipimpin. wont u do anything? we (except me!) voted you since we believed that u can make things better. we counted on you. or is it--our belief--just a fairytale? so sad...

Kamis, 16 September 2010


Wew... sebulan Ramadhan kemarin,saya hampir ga keluar rumah ato kantor,kecuali untuk wawancara / buka bareng temen. Matahari yang galak banget di siang hari, bikin saya hampir pingsan saat jalan kaki sepulang wawancara, dan saya ga keilangan minat untuk jalan kaki lagi siang-siang-kecuali kalo terpaksa. Sekalinya matahari ga muncul, giliran ujan badai yang datang! Jadi 'terpaksa' deh saya melabeli diri jadi orang rumahan sebulan kemarin.

Sebulan mendekam di rumah, saya melakukan 'perjalanan' dalam bentuk yang lain, ke 'dimensi' yang lain pula. Kala bosen ngetik atau jam kantor udah selesai, saya asyik berjalan kaki ke dunia imajinasi saya, yang kali ini saya manifestasiin dalam bentuk korsase beserta kemasannya, di kamar saya yang lebih mirip workshop ketimbang kamar tidur. Hehe ternyata ga kalah menyenangkan dari jalan kaki nikmatin matahari dan angin. Kaki saya bisa beristirahat; giliran tangan dan otak yang ga berhenti berkarya. Dan akhirnya, sepatu kanvas butut saya pun bisa singgah dengan nyaman di rak sepatu-bersih-siap untuk kembali saya kenakan nanti :)

Rabu, 11 Agustus 2010

Tulang Dada vs. barBITCH

Belum lama ini seorang teman nanya, bagian tubuh mana yang paling saya sukai. Setelah melalui perenungan yang lumayan lama, saya menjawab, ‘Nggak ada’. Saya sangat nyaman dengan kondisi fisik saya. Saya juga gak ngerasa jelek seperti itik buruk rupa. Tapi setelah saya pikir-pikir, secara fisik, memang nggak ada bagian tubuh saya yang bisa dibanggakan: pendek, ‘ndut, ga putih, telapak kaki lebar kyak kipas, paha guede, betis saingan sama para perempuan yang tengah hamil. Dipandang dari sudut mana pun, gak ada seinchi pun keindahan dari kaki saya. Jadi bisa dipastikan, kaum adam ga akan terangsang melihat kaki saya :D

Setelah teman saya sedikit memaksa, ‘Pasti ada dong..’, saya inget deh, kalau saya suka banget tulang dada saya. Karena menonjol, jadi membuat saya terlihat kurus, hehehehe. Saya selalu merasa seksi kala memandang tulang dada ini melalui cermin.

Saya sama sekali gak terdoktrin tentang konsep kecantikan a la barBITCH: kurus, tinggi, kulit putih mulus, bla bla bla. Saya ngerasa sangat nyaman kok dengan fisik saya yang (sebenernya) pas-pasan. Tapi saat ditanya pertanyaan kayak tadi, ternyata susah juga ya ngejawabnya. Dan ini bikin saya lebih lagi ngehargain tubuh dan diri saya.

Saya ini suatu kesatuan yang utuh; kalo ditelaah satu per satu, mungkin gak ada yang indah dilihat. Tapi dengan memandang semua bagian secara utuh, saya ternyata gak buruk rupa! Tiap elemen di tubuh saya begitu klik; saling cocok dengan yang lain dan menunjukkan kepribadian saya. Saya malah jadi ngerasa aneh kala ngebayangin hidung saya mancung kayak ras Kaukasia atau bibir saya mendadak merekah bak Angelina Jolie.

Jadi, mari singkirkan perbincangan mengenai kecantikan ala barBITCH ataupun tulang dada yang saya banggakan. Saya lebih tertarik menelaah kaki saya. Meski sama sekali ga indah dilihat, bisa jadi sepasang kaki ini adalh elemen terpenting dalam perjalanan hidup saya. Ya iyalah..saya kan pejalankaki! Ga kehitung besarnya jasa kaki saya ini, nganter diri saya ke berbagai tempat dan momen menakjubkan saya di bumi nan indah ini. Dan dia juga ga rewel. Cukup dibalut dengan sepatu kanvas nyaman yang erknya kalau secara harfiah berarti ’semua bintang’.

Sekarang, saya sedang bercermin. Saya tatap lekat-lekat tiap kurva tubuh (yang terlalu banyak) saya. Ga indah, ga sempurna, tapi menjadikan hidup saya begitu sempurna. Dan sepotong tulang dada, ternyata bisa membangkitkan semangat saya dan menimbulkan lekuk indah di bibir saya.

Hmmm Hujan...



“Rain, rain go away, come again another day. Barney’s friends all want to play, rain, rain go away”


Lagu ini sering banget saya senandungin di dalam hati kala hujan turun sementara saya harus keluar untuk liputan / wawancara. Tau sendiri deh, betapa malesnya berada di jalan di Jakarta kala hujan. Becek, lumpur, macet gila-gilaan, dan pengap luar biasa di dalem kendaraan umum karena gabisa buka jendela! Belum lagi risiko besar untuk terjadinya banjir! Bener-bener ngerusak mood dan nghilangin semangat. Musim hujan di Jakarta, bener-benar ga menyenangkan.

Tapi di Tokyo, sensasi hujan luar biasa berbeda! Saya dan Mbak Intan dari Nova malah (sedikit) berharap kalau hari itu akan turun hujan. Alasannya ga penting banget: kita jadi bisa mamerin payung-payung lucu yang baru kita borong di Ameyoko, hehehehehe.

Saat jalan kaki dari hotel menuju stasiun Shimbashi, saya terpesona dengan lautan payung aneka warna, motif, bentuk dan ukuran. Kayak seni instalasi berjalan! Pria-pria ganteng berjas serta para wanita modis, dengan cueknya melangkah di tengah hujan, beraksesoriskan payung yang selalu berhasil bikin senyum saya merekah. Dari bawah payung saya yang transparan seharga ¥100 (murah banget!!), saya terpesona menatap curahan hujan dengan bunyi merdu kala mereka mendarat di payung plastik saya.

Akhirnya saya ngerti banget, kenapa payung transparan begitu identiknya dengan Jepang. Payung ini bener-bener menyenangkan! Saat itu musim gugur; hampir setiap hari hujan. Nah, hujan selalu disertai dengan angin kencang yang ngebawa butiran halus hujan ke mana-mana. Dengan payung transparan, kita bisa pake payung deket banget ke muka, tapi tetep bisa ngeliat jalan dengan jelas karena payungnya tembus pandang! :D Hal menarik lagi tentang payung di Jepang, benda ini ternyata ga sekedar sebagai ‘pelindung’ kala hujan, tapi juga menjadi bagian dari fashion. Karena emang lucu-lucu banget, kita bisa nenteng payung tanpa rasa tengsin, yang sering saya alamin di sini, di mana payungnya norak dangampang rusak. Sementara di Tokyo, payung malah menjadi aksesoris tambahan yang bikin style makin oke. Jadi selama di sana, lagu yang selalu saya senandungkan yakni: “Singing in the rain, I’m singing in the rain…” hahaha….

Eh, tapi saya juga punya memori yang menyenangkan tentang hujan di Bandung. Saya suka banget ujan gerimis sore-sore. Nikmat banget duduk di angkot / Damri, natap keluar ngeliat jalanan aspal yang basah, tertimpa cahaya keemasan matahari atau lampu jalan. Pohon, rumput, pager dan genteng rumah kayak abis diwarnain ulang. Butiran air yang ngegantung di ujung daun, bikin saya terbengong dan menyesapi perjalanan saya yang sederhana tapi indah. Dan jangan lupa aroma tanah basah yang indah…

Ada temen kos saya yang juga suka banget ujan sore-sore, apalagi di tol! Bener deh, momen ujan sore-sore di tol emang gak ada duanya! Nikmaaaat!! Jadi kalau jam 3-an mulai mendung, kita langsung ngehambur ke mobil, ngejar ujan sore di tol. Kalau beruntung, lanskap sawah dan ladang di sepanjang tol dalam kota Bandung, dinaungi pelangi. Pol banget deh!!

Rabu, 04 Agustus 2010

(Un)famous Poor Pedestrian

Beberapa hari yang lalu seorang temen cerita, ada dua orang cewek ngomongin saya. Mereka bertanya-tanya kenapa saya suka banget jalan kaki, dan berkesimpulan mungkin gaji saya kecil banget. ‘Emang sekecil apa ya gajinya sampe harus jalan kaki ke mana-mana?’, kata salah satu dari mereka. Kikikikikik. Sumpah, saya takjub! Sebagai seorang penyandang sindrom berkelakuan autistik yang apatis, teman saya gak banyak. Kalo temen lama lupa sama saya pun, buat saya itu wajar banget. Emang apa menariknya dari saya sampe banyak orang kenal atau inget saya? Jadi, prestasi besar buat saya kalo ada yang kenal saya, sampe tau saya suka jalan kaki dan ngebahas itu :D

Nah, soal topik yang mereka bicarain, saya sedih sih. Bukan sedih karena saya dianggap segitu miskinnya, tapi sedih akan stigma yang melekat pada ‘jalan kaki’. Emangnya orang yang ke mana-mana jalan kaki dan bukannya naik Mercedes itu berarti miskin ya? Padahal kalo di negara maju, semua orang jalan kaki ke mana-mana. Atau naik sepeda. Pernah tuh suatu kali saya lagi jalan kaki sama Priska, di depan kita ada seorang bule parlente, jalan kaki. Kata priska, dia itu salah satu big boss-nya L’Oreal. Nah?

Dan yang bikin saya tambah sedih, ini nunjukin betapa ‘miskinnya’ bangsa saya..huhuhu. Miskin hati karena ternyata banyak yang masih segitu malesnya jalan kaki; bahkan nganggep kalo jalan kaki hanya untuk orang-orang yang ga berduit. Uh sedih deh…

Tentang masalah gaji, yah saya akuin, sebagai wartawan ga mungkinlah gaji saya cukup untuk beli pulau pribadi. Tapi bisalah buat nyicil apartemen, yang sebentar lagi bisa saya huni! Kalian yang ga suka jalan kaki, udah punya apartemen sendiri belom?? :D

Late Night Bus Tour

Saya baru tahu kalo pool PPD 213 ternyata di daerah timur—mungkin sekitara Pulo Gadung atau Klender, yang berrarti deket dari rumah saya. Misteri ini terpecahkan sebulan lalu. Waktu itu saya dan kakak pulang kemaleman dari sebuah mal yang paling keren di Jakarta (kalo menurut saya..habisnya bisa wisata toilet yg tematik keren2 gituh!). Rencana awal, kita naik 213 sampe kp. Melayu, trus naik taksi deh ke rumah. Eh ternyata, bgitu sampe kp. Melayu, bis yg kita naikin belok ke arah terusan Casablanca. Waw senangnya… dan ternyata juga, banayk pedagang dan penumpang lain yang biasa numpang bis ini untuk pulang..

Saya dan kakak nyengir aja, karena dapet tebengan gratis..hihihi. meski kita gak tahu persis, bis ini bisa kita tebenging sampe mana… Sukur-sukur sampe Buaran! Hehehe. Seru deh. Ada sekitar 10 orang di bis. Sebagian asik dan tenggelem sendiri di pikirannya, sebagian lain ngobrol dengan akkrab dgn temennya serta becanda dengan si sopir dan kernet. Bis meluncur tenang—tanpa ngetem dan tanpa ada kebisingan kernet teriak-teriak cari penumpang—lampu bis dimatiin, jadi suasananya syahdu dan akrab.

Saya selalu suka petualangan. Numpang bis yang mau pulang ke pool di malam hari, nimbulin sensasi tersendiri; mendebarkan sekaligus menakjubkan. Karena sepanjang jalan, selalu ada pertanyaan, ‘habis ini dia belok atau lurus ya? Saya bisa nebeng sampe mana?’. Selain dapet tebengan gratis (^ ^ v), suasananya juga kerasa beda banget, meski jalan yang dilalui biasa saya lewati sehari-hari.

Di perempatan McD, bis belok ke kanan, ke arah buaran, terus lurus—gak tahu lurus lagi ke pl. gadung, ataukah belok ke Klender. Saya trun di lampu merah buaran, dan naik angkot ke rumah. Makasih tebengannya ya Pak!

Cerita serupa pernah saya alami, mungkin tahun lalu. Tapi kalau yang satu ini lebih ‘berbumbu’. Ceritanya, saya pulang dari Balai Sidang naik bis lengserang Jepang warna ijo. Biasanya saya turun di UKI. Eh kata sang sopir dia mau pulang ke pool di Klender. Ga mungkin dong tebengan gratis saya sia2in! Hahaha. Sebenernya bukan hanya amsalah ongkos yg jd lebih irit sih.. saya gak sepelit itu kok, hehehe. Tapi saya suka aja sensasinya! Brtanya-tanya, dia lewat jalur mana…

Dari UKI, bis menuju Kalimalang, dan sempet isi bensin juga. Sempat terpikir untuk turun dan naik angkot aja ke rumah. Tapi saya bener-bener penasaran sama rute yang akan diambil bis ini! Jadi saya tetep ngendon deh. Bis jalan lagi, dan ternyata belok kea rah pd. Bambu, kayak rute 58! Wow asyik! Jadi annti saya bisa turun di pertigaan pd. Bambu, terus naik m32.

Tapi, o-ow…. Ternyata lagi ada pengajian gede-gedean di perempatan pd.bambu, di sekitaran fly over! Kalo ga salah perayaan Maulid Nabi deh. Semua orang se-pndok ambu dan sekitarnya mungkin sampe Bekasi, tumplek plek di sana! Jalan jadi tempat parkiran motor dan mobil dadakan. Alhasil, daerah di sekitar tempat itu ditutup, kita gabisa lewat. Nah lo??

Jadilah bis terpaksa belok ke perumahan. Coba aja bayangin, bis segede itu nyelip-nyelip di pelosok perumahan! Si sopir dan kernet sama-sama gak tahu mesti lewat jalan mana, jadi itu bener-bener trial and error deh.

Setelah sekian lama akhirnya kita berhasil mencapai jalan raya, dan menuju fly over. Karena perempatan ditutup, kita gak bisa belok kanan ke arah cipinang; jadilah kita naik fly over dan nyaksiin crowd yang nyesakin di pengajian, yang nyebabin kita terlunta-lunta tengah malam… si Sopir bingung mesti lewat mana.. Saya pun deg-degan karena saat dia berdiskusi dengan si kernet, sempat tercetus ide ‘Prumpung’. Nah lo?? Saya mesti naik apa dari sana? Mana daerahnya Bronx banget. Perasaan saya akcau balau deh. Gundah, gulana, gelisah, deg-degan, sekaligus kesel banget kenapa orang kok bikin acara sampe nyusahin pengguna jalan?? Meski saya juga Muslim, tapi sumpah saat itu saya kesal luar biasa. Padahal setahu saya, agama saya ngajarin untuk nghormatin hak orang lain deh. Ini kok malah egois dan seenaknya banget? Sebal..
Saya berpikir keras, dan untung akhirnya dapet ide! Saya usulin agar mereka puter balik lalu masuk ke Cipinang, nanti akan muncul di belakang Rutan Cipinang. Si Kernet setuju dengan ide saya, dan si sopir nurut aja karena dia gak tahu rute itu. Hehehe akhirnya saya sukses deh turun di depan kompleks perumahan Cipinang, untuk naik M32… waah makasih ya Pak Sopir dan pak Kernet! :D Hmmm, kapan ya ikutan late night bus tour lagi? Hehehe.

Rabu, 14 Juli 2010

Magical-Mystery and Mystical Driver


Sebagai pejalan kaki, sudah tentu saya ‘akrab’ dengan para pengemudi angkutan umum. Tahu sendiri deh, betapa ‘ajaib’ dan ‘mistis’-nya tingkah laku mereka. Saya pernah naik mikrolet, yang jalannya lelet banget, bahkan lebih lelet daripada siput. Bayangin aja, si sopir nyetir sambil baca koran dan satu kakinya diangkat! (???). saya rasa dia lupa kalo dia lagi di belakang kemudi, dan bukannya di warteg…
Pernah juga saya celaka. Waktu SMA, saya selalu naik metro mini ke sekolah. Sekolah saya terletak deket terminal, tapi di sebelah kiri jalan. Jadi emang agak ribet; sang sopir sewot karena habis nurunin kita di deket sekolah, dia harus langsung buru-buru ambil jalur kanan untuk masuk ke terminal. Nah suatu pagi, si sopir buru-buru banget, mungkin mau ada meeting.
Saat itu di bis yang saya naikin ada beberapa orang temen sekolah saya juga. Anak perempuan di depan saya jatuh saat turun. Saya yang memiliki gangguan keseimbangan, ‘latah’ deh; saya juga jatuh. Sialnya, saya turun yang paling akhir. Saya turun lewat pintu depan, dengan posisi sebelah kaki di kolong bis. Belum sempet saya bangun atau narik kaki saya, bis udah keburu jalan. Jegleg! Terlindaslah mata kaki kiri saya! Sontak, semua orang ribut dan ngerubungin saya. Saya kaget sesaat, tapi ngerasa baik-baik aja. Dengan gagahnya saya berdiri! Tapi begitu menjejak tanah, rasa sakit luar biasa menjalar dari mata kaki kiri, nyebar ke seluruh badan, sampai kepala! Tiba-tiba mata saya gelap lalu digotong orang-orang ke RS. Beruntung, sekolah saya amat sangat strategis: di depan sekolah ada RS, di belakang kuburan. Nah lho??

Lagi-lagi cerita tentang sopir metro mini, si Raja Jalanan. Dia ngemudiin bis oranyeyang saya naikin ke jalur busway. Kebetulan di halte busway, lagi ada bis TJ yang lagi nurunin penumpang. Di belakang metro mini, ada juga bis TJ. Mungkin orang-orang TJ udah kesel dan muak sama kelakuan sopir metro mini dan angkutan umum lain. Jadi deh, bis TJ yang di depan berhenti aja gitu, sengaja memerangkap metro mini.
Si sopir metro mini udah emosi banget; dia bunyiin klakson terus, tapi TJ gak berkutik. Sang kondektur turun, minta TJ yang di belakang supaya mundur, tapi ga bergeming juga. Tapi bukan sopir metro mini namanya kalo gak nekat. Jadilah ia maju-mundur-maju-mundur, sampe akhirnya berhasil ngelewatin pembatas kuning, yang misahin busway dari jalan biasa. Jangan ditanya betapa keras guncangannya saat metro mini berhasil masuk ke jalan biasa! Pantat saya serasa ditampar sekarung cabe. Pedess..

Sopir ‘mistis’ lain, gak sengaja saya temuin waktu saya dan Priska naik taksi (kepepet karena udah telat mau liputan). Di lampu merah Kwitang, tiba-tiba si sopir keluar taksi! Nah lo, jangan ditanya betapa parnonya kami berdua! Langsung kami ngecek pintu, apakah udah dikunci? Mata waspada, kalo-kalo ada serombongan orang aneh yang menuju taksi. Eh taunya si sopir melipir ke tembok, dan dia pipis! Aduh Pak, mbok ya bilang-bilang kalo mau pipis! Saya kan bawa botol plastik! Hehehehe.
Nah kalo ini, cerita sahabat saya Mayang. Waktu masih kuliah, dia naik angkot dari terminal G-D-B-G (kyak kunci gitar ya..) menuju kampus kami nan gersang. Suatu pagi, di tengah terminal yang riweuh, si sopir teriak-teriak, “Satu lagi, satu lagi, satu lagi…. Ayo neng, satu lagi neng!,” ujarnya setengah memaksa Mayang untuk masuk ke angkotnya. “Nggak muat Bang,” ujar Mayang setelah melongok dan hanya melihat secuil tempat duduk. “Muat Neng, ayo masuk!!”, si sopir gak kalah sengit. “Aduh Bang, nggak muat! Saya tuh gendut!”, balas Mayang sewot. Si sopir terdiam, lalu melongok ke tempat terpencil yang dimaksudkannya untuk Mayang. Terus dia teriak, “Yang kurus, yang kurus, ayo, masih muat…” Makasih loh Pak… *tersenyum getir dan sinis.

Tapi ada juga cerita mengharukan. Suatu pagi saya buru-buru mau liputan di daerah Kuningan. Saya duduk manis di samping pak sopir yang mengendalikan M32 menuju Kampung Melayu. Tiba di terminal legendaris tersebut, saya pucat pasi: dompet saya nggak ada! Akhirnya saya ingat, dompet ketinggalan di tas yang kemarin saya pakai. Perut saya mendadak mulas. Nggak ada uang satu keeping pun! Plus pulsa habis, jadi nggak bisa minta jemput oleh teman yang juga mau liputan ke sana. O-ow… Hawa dan keringat dingin merayapi punggung saya.
“Kenapa Mba? Dompetnya ketinggalan ya?”, tanya si sopir.
Saya hanya bisa mengangguk pelan dan pasrah.
“Ya udah, ikut pulang lagi aja sama saya,” ujar si sopir begitu sopannya. Sumpah, saya nggak ada pilihan lain. Jadilah saya kembali ke rumah…. Kecewa dan putus asa ngebayangin akan telat banget tiba di tempat liputan T_________T.
Saya minta si sopir untuk sekalian ke rumah saya dulu, jadi bisa langsung saya bayar (rumah saya terletak di tengah labirin gang, bukan di pinggir jalan raya).
“Nggak usah Mba, nggak pa-pa kok. Nanti aja kalau Mba naik mobil saya lagi.” Wuidih baik bener ini sopir?? Seumur-umur baru nemuin, ada sopir sebaik dan sesopan ini. Hmm…. Mungkin dia nyamar? Karena tampilannya bersih, pakai sepatu, dan gak dekil atau bau.
Amazingly, sekitar dua bulan kemudian saya kembali naik M32, kembali duduk di samping sopir. Saya iseng motretin converse butut yang nyaman banget di kaki saya yang juga butut. Si sopir juga pakai sepatu…. Owh! Saya langsung merhatiin wajah si sopir baik-baik.
“Mas! masih inget saya nggak? Waktu itu dompet saya ketinggalan, terus saya ikut balik deh ke Perumnas,” ujar saya bersemangat.
“Oh.. iya iya,” senyumnya. Waaa seneng banget deh, bisa ngelunasin utang sama sopir yang super baik ini. Tapi kok sekarang saya gak pernah ketemu dia lagi ya? Mungkin penyamarannya sebagai sopir mikrolet sudah selesai :D

Satu lagi cerita tentang sopir menyenangkan. Saya sendirian di dalam metro mini, senja hari menjelang Magrib. Kubah langit merah keemasan, angin menyapa wajah saya dengan syahdu. Saya tersadar, betapa lembutnya metro mini berjalan! Nggak lelet kayak siput; kecepatannya sedang. Tapi bener-bener, aduhai mulus banget dia meluncur di jalan! Gak kerasa guncangan sama sekali. Suara bising meraung-raung yang identik dengan metro mini juga ga kedenger. Kursi plastic yang keras jadi serasa sofa kulit nan empuk…. Bener deh, saya jadi serasa lagi naik limosin! Apalagi penumpangnya Cuma saya sendiri. Mata saya punmulai memberat…. Dan itulah salah satu momen tidur saya yang paling nyenyak! (nid)

Ni-Dandelion


Sekitar 2 bulan lalu, topik di kelas CCF ngebahas tentang ganti nama. Ada seorang laki-laki setengah baya di Perancis yang ngurus pergantian nama, karena namanya khas Timur Tengah banget. Beliau penat. Setiap kali kenalan sama orang, pasti ditanya, ‘Senang tinggal di Perancis?’, dan pertanyaan macam itu, karena mengira dia orang asing yang lagi liburan di negeri nan romantis itu. Padaha dia sudah berkebangsaan Perancis sejak lahir; dia berbicara bahasa Perancis, dan melakukan aktivitas yang dilakukan orang Perancis pada umumnya—singkatnya dia ngerasa, dia tuh Perancis banget deh. Dia juga nemuin masalah di bank saat mau nyairin uang; padahal dia pebisnis yang notabene mesti sering berurusan dengan bank untuk transaksi yang gabisa dibilang sedikit. Akhirnya pergilah dia ke instansi yang ngurus pergantian nama. Dipilihnya nama ‘Robert’. Alasannya sederhana: Robert itu ‘nama semua orang’ alias umum banget (pasaran). Orang ga akan bertanya-tanya, dari etnis mana lo berasal, kalo nama lo Robert.

Mademoiselle Dwini (yang lebih seneng dipanggil Dwini aja karena katanya ‘mademoiselle’ ada tendensi ‘kapan nikahnya hayo??’ :p) nanya ke kita murid-muridnya. Seandainya bisa, mau gak ganti nama? Saya satu-satunya di kelas yang jawab ‘ya’. ‘Kenapa dengan nama kamu? Bagus kok’, tanya Dwini (dalam bahsa Perancis, tentunya). Gak ada yang salah dengan nama saya. Bagus dan gak biasa; saya suka. Tapi saya ngerasa lebih nyaman dengan nickname ‘Nidandelion’. Menurut saya, nama itu mewakili diri saya banget. Kebalikannya si laki-laki tadi, saya justru akan milih nama yang unik dan artistik, kalo dikasih kesempatan untuk ganti nama.
Terus saya baru ngeh, kalo saya belum pernah nyinggung asal nama ini di blog pribadi saya. Hahaha… Waktu di Bandung, temen-temen saya yang luar biasa unik punya nickname yang lekat banget sama sosok mereka. Ada ‘Sundea’ yang mengkikrarkan diri sebagai pacarnya Matahari, atau Pecandu Pagi yang hobi banget tidur menjelang pagi dan bangun saat matahari baru muncul. Akhirnya saya mikir, nama apa ya paling mewakili saya?

Teringatlah oleh saya bunga dandelion. Sahabat saya waktu SMA, pernah bikin saya pusing 8 keliling saat dia minta dikasih bunga dandelion di hari valentine (sahabat saya ini cewek, tapi kami bukan queer kok. Buat lucu2an aja ngerayain valentine kyak abg, hehee). Saya keliling2 pasar bunga di Gambir dan sekitarnya. Gak ada seorang penjual pun yang tahu, ‘Dandelion? Bunga kayak apa sih?’. Jujur, saat itu saya juga gak tahu gimana bentuk rupa bunga tersebut.

Pepatah ‘saat murid siap, guru akan datang’ ternyata bener. Ga berapa lama, saya buka-buka ensiklopedia serangga yang sering saya baca waktu masih kecil. Ada foto seekor semut yang lagi ngebawa setangkai benih dandelion (begitu tertulis di caption fotonya). Ohlala… ternyata bunga rumput itu tokh! Pantes aja gak dikenal di pasar bunga… hehehehehe. Lambat laun saya ikutan menggandrungi bunga ini. Saya pun akhirnya tahu, bunga ini sering banget saya lihat di rumput-rumput atau tepian got. Saat mekar, bunga ini sama sekali ga menarik—kuning biasa, bahkan sering dianggep tanaman pengganggu (meski sebenernya bisa digunain sebagai obat alami). Tapi saat bunganya udah kering, tinggal tersisa benih-benih dengan tangkai dan rambut-rambut putih halus, yang siap diterbangin angin. Cantik… banget! Meski sejatinya dandelion itu khusus mengacu pada tanaman yang tadi saya deskripsiin, saya menyebut semua bunga serupa—bunga rumput liar yang dilengkapi sayap berupa rambut halus agar benihnya bisa terbang ngikutin angin—sebagai dandelion. Ga peduli besar ato kecil; warna kuning, putih, atau ungu; saat kelopak bunga gugur dan hanya nyisasin bibit bersayap, mereka semua sama cantiknya kyak dandelion ‘beneran’.

Maka, saya gabunglah nama panggilan saya yang berawalan ‘ni-‘ dengan ‘dandelion’ :D. So, here I am: Nidandelion Pedestrian. Alasan mengagumi dandelion? Wah, banyak. Selain cantik banget saat terbang ditiup angin, dandelion mewakili segala hal tentang kedewasaan, kemandirian, dan journey. Mereka gak pernah tau ke mana angin akan nerbangin mereka. Kalau beruntung, benih akan mendarat di padang rumput subur di tepi sungai yang indah. Tapi bukannya ga mungkin, mereka akan berakhir di tempat pembuangan sampah, tanah tandus, atau tempat lain yang ga memungkinkan untuk hidup. But, it’s a journey! Life’s nothing but journey, right? Dan yang pasti, benih dandelion itu sama autisnya kayak saya. Awalnya, mereka lekat berhimpitan di tangkai bunga. Tapi akan tiba saatnya mereka lepas dari tangkai itu, dan terbang sendiri-sendiri…

Senin, 24 Mei 2010

Si Zebra yang Kesepian

Beberapa hari lalu saya pulang liputan dari sebuah hotel ternama, bersama seorang teman. Pas mau nyebrang jalan dari depan hotel, si satpam bilang, kalo nyebrangnya rada ke sanaan, di zebra cross. Entah apakah krn pengaruh ikan salmon yg luar biasa lezat, yg td saya makan pas lunch atau apa, suasana hati saya lg enak bgt. Jd saya nurut tanpa protes atau bahkan dongkol. Nah begitu slesai nyebrang, baru deh saya mikir, kok saya mau aja ya disuruh nyebrang di zebra cross? Padahal kalau dipikir-pikir, apa juga pengaruh positifnya terhadap saya?? Si satpam nyuruh saya nyebrang di sana biar kesannya si hotel yg super mewah itu tertib dan imejnya bagus. Tapi buat saya???

Istilah zebra cross, pertama kali saya kenal waktu duduk di bangku SD, diajarin sama ibu guru. ‘Zebra cross itu gunanya untuk menyebrang, kalau tidak ada jembatan penyebrangan’. Tapi fungsi zebra cross yang sebener-benernya, baru saya rasain (atau bahkan sadari??) hampir 20 tahun kemudian, yakni waktu k jepun. Selama saya tinggal di jakarta sih, garis-garis melintang di jalan itu cuma sekedar dekorasi (atau noda ya? Karena seringnya warnanya udah pudar dan luntur ke mana-mana tuh) di jalanan. Saya jadi kasihan sama si Zebra. Niatnya kan tulus dan baik banget, tapi seringnya malah dicuekin.. Pasti dia kesepian banget ya?

Meski saya (selalu) nyebrang di zebra cross, tetep tuh saya mesti nunggu mobil/motor/bajaj/truk/dll lewat dulu. Saya harus heboh ngelambai-lambai tangan supaya para pengguna kendaran itu mau berbaik hati nginjek rem dan ngebiarin para pejalan kaki nyebrang. Tapi seringnya mereka ngasih lampu dim supaya kita ga nyebrang dulu. Yah sebagai pengguna jalan dengan kendaraan, pastinya mereka merasa jauh lebih penting dan berharga ketimbang pejalan kaki yang ga bermodal. Kalopun akhirnya kendaraan roda 4/lebih brenti, eh tau-tau ada motor yg lewat seenaknya dan saya hampir keserempet!

Pernah juga ada kejadian tragis. Saya mau nyebrang di boulevard kelapa gading, yg notabene byk bgt mobil parkir d pinggiran jalan. Saya udah siap2 nyebrang, di zebra cross. Terus bisa-bisanya si tukang parkir meminta saya untuk menyingkir dulu karena mobil yg lagi parkir deket sana mau keluar. Gila kali! Saya cuma bengong, terus dengan sarkas natap si tukang parkir, lalu natap ke zebra cross sambil geleng-geleng. “Zebra cross kan hak saya. Situ aja yang nunggu sampe saya berhasil nyebrang”. Sial buat dia (dan buat saya juga), gak satu pun kendaraan yang mau ngalah untuk saya nyebrang.

Nah waktu ke Jepun, saya sampe terbengong-bengong karena ngerasa betapa saya begitu dihargai sebagai pedestrian! Kalau saya brenti di dpn zebra cross di mana gak ada lampu merah, para pengendara itu dengan sopannya berhenti, sampe saya tiba di seberang jalan dgn selamat. Wow! Enaknya tinggal di negara maju! Baru deh saya sadar, kalo kendaraan tuh mestinya brenti saat ada orang mau nyebrang di zebra cross. Bukannya malah ngasih dim!

Coba bandingkan dengan keharusan saya menyebrang di lampu merah Salemba. Mikrolet, mobil, bajaj, motor dan gerombolannya berhenti di zebra cross (di tengah-tengah, bukan di belakang zebra cross!) saat lampu merah. Saya sampe mesti nyelip-nyelip di antara kendaraan buat nyebrang! Heran deh, padahal di sana ada polisi loh. Tolong, hargai kami, para pejalan kaki! Sama-sama manusia kok..